Solusi Survei Udara dengan Drone

Solusi Survei Udara dengan Drone

Di sektor sawit, drone dipekerjakan untuk pemetaan. Sebelumnya, data diperoleh melalui pemetaan citra satelit. Namun pemetaan melalui citra satelit masih ter dapat beberapa keterbatasan. Di an taranya, perolehan resolusi spasial dan data aktualnya kurang detail ketimbang hasil kerja drone. “Apalagi kalau ada faktor awan saat pengambilan data,” tutur Ryan. Dewi Damayanti menambahkan, pengumpulan data dengan drone jauh lebih mudah dan efisien ketimbang sensus darat. Survei aset (inventory) dalam perkebunan sawit merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh sebuah perusahaan sawit. Tolak ukur aset perkebunan sawit di lihat dari seberapa banyak populasi tanamannya.

Sales & Marketing Manager PT Aero Geosurvey Indonesia ini membeberkan, teknik pemetaan dengan drone menawarkan ba nyak kelebihan, yakni lebih akurat dalam menghitung tanaman dan aset yang ada, serta waktu lebih efisien. Ditam bahkan Ryan, metode sensus darat memakan waktu lebih lama. “Survei manual (tenaga manusia), satu orang maksimal empat hektar sehari. Pakai drone bisa 3.000 ha dalam sehari. Human error juga terminimalisir,” cetusnya. Masih menurut Dewi, mobilisasi drone le bih mudah dan dapat dioperasikan dalam apapun kondisi geografisnya. Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung jurusan komunikasi tersebut juga menggam barkan, drone dalam aplikasi pemetaan sawit sudah berkembang. “Observasi area tanam, update inventory, menghitung luas area tanam, dan jumlah pokok (tanaman), analisis irigasi, penentuan area sisipan, peninjauan area banjir, sampai mendeteksi dini kebakaran,” rincinya.

Asisten penyemprot

Tak sebatas itu fungsinya, drone juga sudah mulai digunakan untuk penyemprotan pestisida dan pupuk cair. Riza yang bekerja sama dengan PT Agri Inovasi Dirgantara dalam memproduksi Agridrone menyebut, kesulitan tenaga kerja bisa teratasi dengan adanya drone. Selain efektivitas waktu, penyemprotan dengan drone juga relatif aman. “Dari segi kesehatan, kita tidak perlu kontak langsung dengan pestisida,” cetusnya. Selama 2016, Agridrone yang diproduksi di dalam negeri telah melakukan berbagai penyemprotan untuk sektor perkebunan. Salah satunya di kebun tebu milik PT Gunung Madu Plantations yang berlokasi di Lampung.

Berbeda dengan penyemprotan manual yang kadang kurang merata, tingkat kerataan penyemprotan dengan drone jauh relatif stabil. “Ini dibuktikan dengan penyebaran sensitive paper di lahan, hasil drone stabil merata,” paparnya. Dalam sekali terbang, multirotor drone berbahan carbon fiber itu mampu membawa 10 liter cairan dengan butir semprot berukuran 200 – 400 mikron. Penambahan infra red pada drone, ujar Riza, bisa untuk memantau kondisi tanaman. Tanam an yang sehat dan tidak, serta tanaman yang kering dan tidak kering bisa terlihat.

Hasil GSD yang Faktual

Dibandingkan pemetaan melalui citra satelit, perolehan Ground Sampling Distan ce (GSD) atau resolusi spasial menggunakan drone jauh lebih aktual dan faktual. GSD merupakan rasio antara nilai ukuran citra digital (pixel) dengan ukuran sebenarnya (cm) yang dihitung dalam bentuk cm/pixel. Pengambilan data melalui citra Google Earth, dinilai Riza, berlangsung cukup lama. “Pakai Google Earth hasilnya bisa setahun kemudian setelah pengambilan gambar,” ucapnya. Hasil resolusi spasial juga dipengaruhi jenis kamera. Dosen Surya University itu menerangkan, makin baik spesifikasi kame ra, maka baik hasilnya. Untuk informasi yang lebih mendalam, sebaiknya resolusi spasial yang disajikan di bawah 15 cm/pixel. Semakin kecil nilai GSD, berarti semakin baik resolusinya.

Drone buatan dalam negeri milik Aero Geosurvey, saat ini mengha silkan resolusi spasial 1-5 cm/pixel. Mengadopsi teknologi bahan pesawat terbang, composite fiber, Ryan mengklaim, fixed wing drone yang dinamai Ai450 v2.5 ER itu mampu terbang selama 60-70 menit. “Untuk sekali terbang bisa meng-cover 800-1200 ha,” tandas alumnus Jurusan Teknik Penerbangan ITB Bandung ini. Siapa tertarik?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *