MEMBONGKAR SUMBAT BISNIS HORTIKULTURA

Membongkar Sumbat Bisnis Hortikultura

Pada 2050, Bank Dunia memperkirakan jumlah penduduk dunia akan mencapai 9 miliar jiwa. Seba nyak 350 juta jiwa di antaranya warga Indonesia. Untuk memenuhi ke butuh an pangan penduduk sebanyak itu, du nia perlu menghasilkan pangan 50% le bih banyak. “Padahal perubahan iklim bisa saja memotong hasil panen lebih dari 25%. Hal ini dapat menimbulkan krisis pangan yang tidak diharapkan,” tutur Afrizal Gindow, Ketua Asosiasi Produsen Perbenihan Hortikultura In do nesia (Hortindo) dalam Forum Be dah Hortikultura yang diselenggara kan Kadin beberapa waktu lalu di Jakarta.

Masih menurut Afrizal, di negara maju peningkatan penghasilan akan menurunkan konsumsi beras per kapita, dan sebaliknya menaikkan konsumsi komoditas hortikultura seiring mening katnya kesadaran untuk mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Jadi, “Hortikultura memiliki peran pen ting dalam pemenuhan kebutuhan pangan,” tegas Direktur Pemasaran PT East West Seed Indonesia, produ sen be nih hor tikultura berbasis di Purwakarta, Jabar, itu.

Masih Banyak Impor

Di Indonesia, subsektor hortikultura masih belum berkembang sepenuhnya. Buktinya, perdagangan internasional hortikultura masih defisit. Menu rut Pusat Data dan Informasi, Kemen terian Pertanian (Kementan), defi sit periode Januari – Desember 2014 senilai US$1,12 miliar atau hampir Rp15 triliun. Kendati begitu, Afrizal mengakui, banyak hal positif yang terjadi pada subsektor hortikultura Indonesia dalam lima tahun terakhir. “Produksi sayuran meningkat 2,7%, bisnis buah tum buh sebesar 6,6%, tanaman obat me ningkat 4,24%, serta florikultura khususnya jenis bunga potong naik 18,6%. Yang paling membahagiakan, impor produk hortikultura pada 2015 turun 17% atau setara US$178.937 (Rp2,4 miliar) dibandingkan 2014.

Sebaliknya ekspor hor tikultura meningkat 23%,” ulasnya. Untuk mengembangkan produksi komoditas hortikultura, harus dimulai dari ketersediaan benih. Pasalnya, Afrizal menyebut, 50% keberhasilan usaha tani ditentukan dari kualitas benihnya yang mewakili ketahanan terhadap penyakit dan respon terhadap pupuk. Dari sisi pasar, lanjut dia, total nilai ke butuhan benih hortikultura sebanyak Rp1,3 triliun. Sayangnya, suplai dalam negeri baru mampu memasok setengah dari kebutuhan tersebut. “Padahal pada 2020 pang sa pasar benih hor tikultura diprediksi bisa naik mencapai Rp2 triliun,” cetusnya. Senada dengan Afri zal, Wayan Supadno pun sepakat bisnis hortikultura ma sih terbuka dan me mang menguntungkan. Prak tisi pertanian yang juga mantan anggota TNI ini berpendapat, potensi omzet, la ba, dan ROI (return on investment – rasio laba bersih terhadap biaya) dibanding semua ko moditas, hortikultura berada pada posisi pa ling atas. “Pa sar nya sa ngat menjanjikan seka li. Contohnya nilai im por buah segar masih Rp21 triliun/ tahun. Pen dapatan peta ni akan terdongkrak,” tegasnya.

Tantangan yang Dihadapi

Untuk menggarap potensi pasar hortikultura, pelaku usaha masih harus meng hadapi sejumlah tantangan. Afrizal menjelaskan, tahun ini Indonesia mengalami fenomena La Nina yang berdampak pada ketersediaan air yang melimpah. Sektor pertanian memang membutuhkan air, tapi tentu saja da lam jumlah tidak berlebihan. Produksi benih hortikultura dalam kondisi su plai air berlebih akan menyulitkan saat pengeringan benih hasil panen karena sinar matahari berkurang. Akibat lan jutan dari kelebihan pasokan air ada lah berkembangnya penyakit tanam an. Selain La Nina, alumnus IPB tersebut juga memaparkan tantangan lain, yakni keterbatasan akses benih berkualitas, infrastruktur yang belum memadai, transportasi, berkurangnya keterse diaan lahan dan tenaga kerja di bidang pertanian.

Dari sisi regulasi, Permentan No. 11 tahun 2009 tentang Karantina juga menghambat ketersediaan benih di daerah dan Permentan No 4 tahun 2015 yang mewajibkan setiap produk hortikultura impor yang masuk ke Indonesia untuk diperiksa lebih dulu di laboratorium yang telah diaudit Badan Karantina Pertanian Indonesia. Dan laboratorium di negara asal hortikultura itu harus lulus audit Badan Karantina Pertanian. Terkait ketersediaan tenaga kerja di bidang pertanian, Wayan juga berpendapat, sumber daya manusia memang kurang mendapat perhatian. Akibatnya, “Komposisi petani usia muda di bawah 35 tahun hanya 12% dan belum ada upaya nyata melahirkan praktisi secara cepat massal,” sergahnya. Agar tantangan tersebut bisa diatasi, Afrizal menawarkan konsep urban farming (pertanian kota). Sementara Wayan mengusulkan, pencetakan peng usaha muda pertanian secara massal secepatnya dengan melibatkan banyak praktisi sukses agar jadi sumber inspirasi. “Cetak perkebunan hortikultura oleh para developer perkebunan dengan program kepemilikannya kredit bank. Laksanakan diklat secara tersebar tentang pengelolaan pascapanen untuk pasar konvensional, industri, dan ekspor. Sedangkan informasi pasar, harus terkelola dengan baik dan benar agar petani tidak merugi. Rangsang agar anak muda gemar bertani atas dasar pendekatan kesejahteraan petani,” pungkas Wayan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *