Pancaroba,Awas OPT Beraksi!

Banyak orang beranggapan sawit termasuk tanaman yang bandel. Hanya ada beberapa jenis OPT yang mengganggu tanaman penghasil minyak goreng utama ini. Namun bila tidak dikendalikan, OPT tersebut akan merugikan, bahkan bisa menurunkan produksi 30%-40%. Apalagi pada masa pancaroba seperti sekarang, OPT tertentu cenderung naik intensitas serangannya sehingga perlu antisipasi yang tepat agar tidak meluas.

Waspadai Kumbang Tanduk

Menjelang musim kemarau, cuaca cenderung panas lalu tiba-tiba hujan kemudian panas lagi. Kondisi seperti ini, menurut Dudy Kristyanto, kondusif bagi perkembangan serangga. Pada kebunkebun yang sedang diremajakan (replanting), aplikasi pupuk kandang memicu munculnya serang an kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Selain itu, keberadaan tandan kosong di pinggir tanaman sebagai pupuk berpotensi menjadi sarang larva kumbang itu. Pun demikian bonggol tanaman yang teronggok tanpa ditutup tanaman kacangkacangan akan menjadi tempat favorit bagi kumbang tanduk berbiak. Menurut pantauan Marketing Manager PT Bina Guna Kimia itu, serangan kumbang tanduk tidak hanya terjadi di kebun peremajaan tetapi juga pada tanaman menghasilkan sampai umur 10 tahun yang sedang mengalami pertumbuhan daun baru. “Kalau sudah terserang sampai pucuknya mati, tanaman tidak ada hasilnya. Harus tunggu enam bulan lagi untuk membentuk tandan buah. Karena itu perlu menjaga daun tombak (pucuk) untuk investasi ke depan,” jelasnya. Di lapangan, alumnus Fakultas Pertanian Lingkungan, Universitas Bonn, Jerman, 1999 itu sering melihat petani mengendalikan kumbang tanduk dengan cara yang kurang tepat.

Mereka umumnya menyemprot hama tersebut dengan insektisida berspektrum luas yang juga mematikan serangga nontarget seperti kumbang penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus). Padahal kumbang ini bermanfaat membantu perkembangan buah. “Ada penelitian yang menunjukkan dengan adanya kematian serangga penyerbuk, produksi akan berkurang hingga 30%,” tandas Dudy. Karena itu ia merekomendasikan insektisida yang tidak berspektrum luas dan diaplikasikan tepat sasaran, yaitu Marshal 5G yang berbahan aktif karbosulfan. “Letakkan di tempat kumbang melubangi tanaman sehingga tidak mengenai bunga dan kumbang penyerbuk tetap bisa melakukan penyerbukan.

Karena berbentuk granul (butiran), inseksitida akan bertahan tanpa kuatir tercuci hujan,” jelasnya. Untuk pencegahan, tempatkan pada pupus atau ketiak pelepah daun. Dosisnya 5 g/tanaman. Sedang kan untuk pengendalian 10 g/tanaman. Aplikasinya sebulan sekali dan biasanya akan terkendali dalam waktu 3-4 bulan. Pada tandan kosong dan sisa bonggol sawit taburkan 5 kg Marshal 25 DS/100 kg tandan kosong/cacahan bonggol sawit.

Padu-padan Nutrisi dan Varietas Unggul

Perubahan iklim global mengharuskan petani semakin kreatif dalam budidaya padi. Pemilihan varietas unggul baru (VUB) yang adaptif iklim ekstrem dan pemberian nutrisi tanaman yang tepat akan menghasilkan panen padi optimal. Mari simak caranya.

VUB Menurut Moh. Ismail Wahab, Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, perubahan iklim global menyebabkan peningkatan intensitas kekeringan dan banjir. Menghadapi fenomena ini, Ismail menganjurkan petani menggunakan varietas genjah (berumur pendek) dan meninggalkan varietas lokal. “Varietas lokal umurnya panjang, 4-5 bulan. Varietas pendek kita sudah punya umur 2,5 bulan panen,”katanya.

Sawah yang terkena intrusi air laut akan mengandung garam (salinitas) tinggi. Ismail menyarankan penggunaan varietas Inpari 34 dan Inpari 35 yang toleran salinitas hingga 12 dS/m. Inpari 34 dan Inpari 35 memiliki potensi hasil 8,1 ton/ha dan 8,3 ton/ha. Keduanya juga toleran wereng batang cokelat biotipe 1, blas, serta hawar daun bakteri.

Inpari 30 Ciherang Sub 1 cocok digunakan di lahan yang sering tergenang banjir. Padi ini tahan rendaman dengan potensi hasil 9,6 ton/ha. Sedangkan padi toleran kekeringan, ada Inpago 8 dan Inpago 9 untuk lahan gogo atau aerobik, serta Inpago 38 Agritan dan Inpari 39 Agritan buat tadah hujan. Aerobik berarti menyerap air melalui kabut air atau penyemprotan, bukan dari akar. Hasilnya bisa 8-9 ton /ha. Selain itu, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Perta- nian juga sudah merakit VUB ultra genjah dengan umur tanam berkisar 90-an hari. “Tahun ini akan dilepas (ke publik),”imbuhnya.

Nutrisi Perihal nutrisi tanaman, ulas Sutisna Sintaatmadja, Staf Ahli Pemasaran PT Pupuk Kujang Cikampek, padi perlu asupan pupuk kimia, organik, dan hayati. Penggunaan pupuk kimia saja secara kontinu bisa merusak struktur tanah dan kandungan bahan organiknya di bawah 5%. Padahal, tanah yang subur berkadar organik di atas 5%.

Pupuk organik bisa memperbaiki sturuktur tanah dan menjadi makanan mikroba tanah. Sedangkan pupuk hayati berisi bakteri baik yang berguna memperbaiki struktur tanah, menghambat penyakit, memproduksi urea dari fiksasi nitrogen (N) di alam, serta menghasilkan hormon perangsang tumbuh.

Tisna, sapaannya, menganjurkan penggunaan pupuk majemuk NPK Kujang 30- 6-8 yang telah dilengkapi bahan organik, kimia, dan mikroba yang bagus untuk nutrisi tanaman. Bahan organik didukung unsur hara makro dan mikro lengkap, memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi sehingga bersifat slow release (dilepas bertahap) dan mengurangi pencucian. Bahan kimianya mengandung hara tinggi dan digunakan dalam jumlah kecil.

Sementara mikrobanya mengandung Azospirilum sp., Bacillus sp., Mycorrhiza sp., yang bermanfaat untuk fiksasi N, melepas fosfor sehingga tersedia buat tanaman, mengendalikan akar dari penyakit, dan mengeluarkan hormon perangsang tumbuh seperti IAA, auksin, giberelin, dan sitokinin. “Mikroba ini sampai satu tahun tidak mati. Maka penggunaannya akan lebih hemat lagi,” tandasnya.